| Indonesia di Pacific Ring of Fire |
|
|
|
|
Letusan Gunung Tambora 10 April 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa, NTB meletus. Letusannya setara dengan enam juta kali kekuatan bom atom. Selain menelan 100.000-an korban jiwa, semburan asapnya juga mencapai ketinggian 44 kilo meter dan mengakibatkan gelombang tsunami setinggi empat meter.
Gelap gulita selama tiga hari akibat pekatnya debu terjadi dalam radius 600 kilo meter dari pusat letusan. Sementara itu, di bumi belahan utara, suhu turun hingga 0,7 derajat Celcius. Penduduk Eropa dan Amerika Utara pun harus merelakan satu musim panas di tahun itu. Perubahan cuaca yang drastis ini menyebabkan penyebaran wabah penyakit dan kelaparan akibat gagal panen di seluruh dunia. Letusan Gunung Krakatau 27/8/1883 Meletusnya Gunung Krakatau, gunung api bawah laut di Selat Sunda. Aktivitas gunung diawali 20 Mei 1883 berupa semburan abu dan uap setinggi 11 km dan suaranya terdengar sejauh 200 km. Puncaknya pada 27/8/1883 yang dentumannya terdengar hingga Singapura dan Australia. Erupsi menyemburkan batu apung dan abu setinggi 70-80 km, yang endapannya menempati area 827.000 km persegi. Runtuhan gunung api ini menimbulkan tsunami setinggi 20 m. Gelombang pasang itu menyebar hingga 120 km dari pusat letusan, diperkirakan sedikitnya 36.417 jiwa lenyap dan desa-desa di kepulauan sekitarnya musnah binasa. Gempa di Banda 1/2/1938 Gempa berkekuatan 8,5 Skala Richter terjadi di Gempa di Banda Aceh 26/12/2004 Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1) mencapai 127.672 orang. Namun jumlah korban tewas di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur yang sebenarnya tidak akan pernah bisa diketahui, diperkirakan sedikitnya 150.000 orang. Gempa di Banda Aceh ini setara setara dengan energi letusan 10.000 bom atom. Gempa di Yogyakarta 27/5/2006 Pada pukul 05.53, gempa bumi tektonik berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang DI Yogyakarta dan sekitarnya. Ini yang skala besar, masih banyak lagi lainnya yang skala menengah kecil.
Bukan suatu keanehan kalau negara Teori Tektonik Lempeng, menerangkan bahwa permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng besar yang bergerak terus menerus. Prediksi terhadap gempa dapat dilakukan (tidak sampai ke hari, tapi perkiraan rentang tahun berapa bisa terjadinya gempa). Hal ini bisa dipelajari dari sejarah, dimana seperti sejarah Dalam mengatasi gempa bumi ini, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur manajemen dan pendidikan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan lebih siap menghadapi bencana alam, khususnya gempa. Selain itu, pemerintah dan masyarakat harus proaktif melakukan pemantauan, dan pembangunan sistem peringatan dini bencana. Dirangkum dari berbagai sumber. |
| < Prev | Next > |
|---|